Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Selamat Datang
image

Glenn Rizdki

085740044067


Jl. Kanguru Utara Raya No. 17 Gayamsari
menu
Artikel Terbaru
Komentar
Arsip

SLINK
Its Me

free glitter text and family website at FamilyLobby.com

Pengunjung

free counters

chatt


ShoutMix chat widget

traffic
Jam
My Facebook

Perhitungan mesin induk Kapal

 

PERHTUNGAN DAYA MOTOR INDUK KAPAL

 

Perhitungan tenaga mesin induk kapal diawali dengan menghitung besarnya tahanan kapal. Untuk menghitung atau menentukan besarnya tahanan dapat menggunakan metode Holtrop. Metode Holtrop dapat digunakan untuk memperkirakan besarnya hambatan kapal untuk jenis kapal antara lain : tanker , general cargo ships, fishing vessels, tugs, container ships and frigates

Perhitungan Tahanan Total Kapal

            Perhitungan tahanan kapal ini menggunakan metode holtrop (1984), Dalam menghitung tahanan kapal dengan menggunakan metode holtrop ada beberapa komponen tahanan yang harus kita tentukan. Komponen – komponen tahanan tersebut antara lain:

1.    Tahanan gesek

2.    Tahanan gelombang

3.    Perhitungan hubungan model dengan kapal (model ship allowance)

Tahanan gesek kapal

Persamaan untuk menghitung tahanan viscous kapal menurut Holtrop adalah:

            RT R+ Rw + RC

           =  ½.ρ.V2.Cf.(1+k).Stot  +  RW/W (W)  +  ½.ρ.V2. Stot. CA

             =½.ρ.V2.Stot[Cf.(1+k)+CA]+ RW/W (W)

Dimana :

      ρ          =  Massa jenis air laut

                  =  1,025 ton/m3

      V         =  Kecepatan dinas kapal

                 

      Stot       =  Luas permukaan basah kapal total (m2)

      Cf        =  Koefisien tahanan gesek kapal

      (1+k)   =  Koefisien karena pengaruh bentuk kapal

Ø  Perhitungan koefisien tahanan gesek kapal (Cfo).

Dalam perhitungan tahanan gesek kapal Holtrop mengunakan rumus ITTC (1957), dimana pada rumus ini akan dihitung koefisien tahanan gesek kapal (Cfo):

                                                        (PNA. Vol II. Hal 90)

Dimana :

Cfo      =  Koefisien tahanan gesek kapal

Rn       =  Bilangan Reynold

Rn       =    VTL / V ( Menurut ITTC - 1957 )                                      

VT        =  Kecepatan Percobaan

= 1,06 x Vs

 

L          =  Panjang kapal yang tercelup air (Lwl) 

v          =  Koefisien kekentalan kinematis

=  1,1883.10-6 m/s

(reff : PNA Vol II hal. 58 tabel X untuk suhu air laut » 15 o C )

 

 

Ø  Perhitungan luas permukaan basah total (Stot)

Stot = Total luas permukaan basah lambung kapal & appendages

Stot = WSA + Sapp

dimana :   

Sapp = Skemudi + Sboss

 

         Skemudi = TL/100[1+25(B/L)2]


 

 

Tahanan Gelombang Kapal

Selain Tahanan gesek, kapal yang berjalan dengan kecepatan tertentu dilaut juga akan mengalami tahanan gelombang. Dan untuk menghitung tahanan gelombang (Rw), rumus yang dipakai oleh Holtrop  menurut pada Havelock (1913) 

 

 

 

 Perhitungan untuk hubungan model dengan kapal (model ship allowance)

 

Untuk hubungan antara model di tangki percobaan dengan kapal yang sebenarnya harus ada toleransi dan Holtrop memberikan allowance (Ca) (dari PNA vol II hal 93)

 

 

 

 Perhitungan Daya Efektif (EHP)

EHP     =  Rt x v                                              (PNA. Vol.II Hal. 161)

 

DHP    =  EHP/Pc

 

Pc        = Propulsive coefiscient

hH x  hR x  hO =...........

            hH          = Hull efficiency ( diambil dari tabel 6 PNA vol II Hal 161)

            hH          = 1,13

            hO        = Open propeller efficiency (efisiensi Propeller)       

            hO       = 0,583

            hR        = Relative-rotative efficiency

            hR        = 1,03 ~ 1,05

SHP    = EHP / Pc

 BHP  =DHP /(ns.nrg) (ns)

ns = shafft eficiency =0,97 (Kamar mesin dibelakang)

nrg = reduction gear eficiency =0,98

 

Kamar mesin direncanakan dibelakang, maka kerugian daya 3%(hasil x 3%)

 

Pertimbangan Pemilihan Mesin Induk (berdasarkan L. Harrington, Roy, dalam buku Marine Engineering)

Faktor-faktor yang menjadi pertimbangan pemilihan mesin induk :

 1. Maintainability

      Perawatan maupun perbaikan mesin yang mudah dengan biaya yang murah juga perlu diperhatikan dalam memilih motor penggerak kapal (mesin induk). Hal ini berakibat langsung terhadap biaya operasional kapal dan jumlah crew kapal.

 2.  Reliability

      Keberadaan permesinan di pasaran dan mudah-tidakNya memperoleh tipe mesin tersebut merupakan faktor yang utama, karena mempengaruhi faktor yang lain.

3.  Space and Arrangement Requirement

     Perencanaan ruangan untuk tipe mesin induk yang dimaksud seharusnya tidak memerlukan tempat yang sangat luas, sehingga dapat mengurangi dimensi kamar mesin.

4.  Weigth Requirement

     Berat permesinan sangat mempengaruhi kapasitas/jumlah muatan (full load) kapal, khususnya pada kapal tanker yang kapasitas cargonya sangat tergantung dengan sarat kapal.

5.  Type of Fuel Required

Dari berbagai jenis bahan bakar yang dipakai mesin induk (padat, cair maupun gas), yang lebih banyak digunakan adalah cair (petroleum fuels). Selain mudah diperoleh juga murah. Yang penting adalah sesuai dengan mesin sehingga memperpanjang umur mesin tersebut.

6.  Fuel Consumption

Mesin induk yang dipilih seharusnya memerlukan bahan bakar sehemat mungkin/tidak boros karena bisa mengurangi biaya operasional kapal.

7.  Fractional Power and Transient Performance

Kemampuan mesin saat beroperasi, baik pada saat kapal di pelabuhan dengan kecepatan rendah maupun saat kapal berlayar dengan kecepatan penuh juga perlu dipertimbangkan.

8. Interrelations with Auxilaries

Keberadaan mesin bantu dalam melayani kebutuhan mesin induk, cargo handling, ship handling, dan lain-lain juga harus diperhatikan.

9. Reversing Capability

Kemampuan bermanuver dari mesin induk untuk menghentikan kapal maupun membelokkan kapal berpengaruh terhadap olah gerak kapal sehingga mendapat perhatian khusus. Hal ini terkait dengan tipe propeller yang dipakai.

10.  Operating Personnel

Jumlah maupun crew yang diperlukan untuk mengoperasikan mesin induk dan kemampuan mengoperasikannya merupakan hal yang juga harus diperhatikan

11.  Costs

Biaya instalasi mesin maupun biaya operasionalnya merupakan faktor yang sangat penting karena berpengaruh terhadap ekonomis kapal

12.  Rating Limitations

 

Sebagai pertimbangan lainnya, dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1. Engine speed classifications.

 

Specifications

Piston Speed [rpm]

Shaft Speed [rpm]

Low speed

1000 – 1200

100 – 514

Medium speed

1200 – 1800

700 – 1200

High speed

1800 – 3000

1800 – 4000

 

Tabel 2. Keuntungan dan kerugian mesin putaran rendah dan putaran tinggi.

Tinjauan

Putaran Rendah

Putaran Tinggi

Dimensi mesin

Besar

Kecil

Umur pemakaian komponen

Lama

Cepat

Berat mesin

Berat

Ringan

Harga mesin

Mahal

Murah

Komsumsi bahan bakar

Irit

Boros

Biaya operasional

Murah

Mahal

Biaya instalasi mesin

Murah

Mahal

 

Pemilihan Mesin Induk

Dari pertimbangan-pertimbangan diatas, maka dapat dipilih mesin yang sesuai dengan daya yang diharapkan, yaitu dari segi efisiensi dan keekonomisan.

 

 

 

 

 

Wed, 30 Nov 2011 @02:38


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 4+5+3

Copyright © 2014 riyuko.com · All Rights Reserved